9 October 2022

DUA NAMA LEGENDA REAL MADRID INI JADI PENYEMANGAT PEMAIN BALI UNITED U-20 UNTUK MENGGAPAI MIMPI!

Sepak bola pada medio tahun 2000-an bisa dikatakan sebagai masa keemasan si kulit bulat. Sejumlah pemain hebat dan bertalenta menghiasi berbagai kompetisi top di dunia.

Nama-nama pesepak bola besar yang kini menjadi legenda, pada era itu berada di puncak kariernya. Sebut saja megabintang David Beckham, Ronaldo Luís Nazário de Lima, Luis Figo, Ronaldinho, Zinedine Zidane, dan masih banyak lagi.

Aksi ikonik para bintang tersebut dalam mengolah bola menjadi hiburan sekaligus meninggalkan kesan tersendiri bagi para pecinta sepak bola. Maka dari itu, banyak orang yang memiliki pemain idolanya masing-masing.

Tidak hanya sekadar mengidolakan, mereka juga mengikuti gaya bintang idolanya dan mengoleksi jersey sang pemain.

Seiring dengan berjalannya waktu, para pecinta sepak bola yang kini sudah bertambah dewasa bahkan turut mengabadikan nama pesepak bola pujaannya tersebut ke anaknya.

Sebagai contoh, sejumlah pesepak bola lokal Indonesia memiliki nama yang serupa dengan bintang sepak bola. Sebut saja pemain andalan Persib Beckham Putra, amunisi Persik Sutan Diego Armando Ondriano Zico, serta pasukan Timnas Indonesia U-16 Femas Aprian Crespo, Figo Dennis Saputrananto, dan Arkhan Kaka Putra.

Nama-nama tersebut tentu tidak asing. Pasalnya mengadopsi dan terinspirasi dari bintang sepak bola dunia, David Beckham, Diego Armando Maradona, Zico, Hernan Crespo, Luis Figo, dan Ricardo Kaka.

Nama unik tersebut juga saat ini ada di dalam susunan pemain Bali United U-20. Dia adalah Figo Beckham Imanuel Poniskori.

Dari dua kata pada nama depannya, para pecinta sepak bola tentu sudah mengetahui dari mana inspirasi nama tersebut datang.

Ya, dua legenda Real Madrid yakni Luis Figo dan David Beckham menjadi inspirasi kedua orang tua pemain asal Manado tersebut memberikan nama kepadanya.

Figo, begitu ia akrab disapa memang lahir dari keluarga, khususnya sang ayah yang mencintai klub Real Madrid sejak lama. Maka dari itu, tidaklah mengherankan jika duo pemain Los Galacticos tersebut disematkan pada namanya.

Kecintaan sang ayah kepada Real Madrid dan sepak bola tersebut ternyata turun kepada Figo saat ini. Meskipun berbeda generasi, tetapi ia juga mengidolai klub asal ibu kota Spanyol tersebut.

Tidak hanya itu, ternyata, dua saudaranya juga memiliki nama unik. Dua adiknya bernama Cristiano Ronaldo Poniskori dan Sergio Ramos Poniskori.

Hal tersebut menunjukkan betapa cintanya sang ayah terhadap dunia kulit bulat.

"Orang tua sempat menceritakan kalau dulu bapak adalah fans berat Real Madrid, terutama dengan pemain Luis Figo dan David Beckham. Hanya itu saja yang bapak ceritakan. Kalau saya pribadi juga senang dengan Real Madrid. Kalau sekarang, saya hanya lihat mereka (Figo dan Beckham)," ujar Figo.

Meskipun memiliki nama yang persis dengan dua legenda besar sepak bola dunia tersebut, pesepak bola berusia 19 tahun tersebut mengaku tidak merasa terbebani. Namun, ia justru semakin bersemangat menggeluti dunia kulit bulat menjadi sama seperti idolanya itu.

Sederet prestasi mentereng yang telah diraih oleh Luis Figo yakni pemain terbaik FIFA, Ballon d’Or, Champions League, empat Scudetto Serie A, dan empat juara La Liga menjadi penyemangatnya meniti karier.

Belum lagi koleksi gelar Champions League, enam piala Premier League, Ligue 1, dan dua piala FA milik David Beckham semakin menginspirasi sulung dari tiga bersaudara ini.

"Saya pribadi tidak merasakan beban, justru menjadi motivasi tersendiri bagi karier saya,” kata Figo.

Lebih lanjut, untuk meniti karier dalam dunia sepak bola, Figo pun rela keluar dari zona nyamannya. Ia yang telah merasakan bermain di tim senior klub Sulut United mengambil langkah berani untuk terbang ke Bali demi merasakan atmosfer baru bersama Bali United.

Begitu mengetahui adanya kesempatan untuk bergabung bersama skuad Serdadu Tridatu Muda, pemain asal Lembean, Sulawesi Utara tersebut tanpa berpikir panjang langsung mengambilnya.

Berkat kerja keras dan kedisiplinan, Figo pun terpilih masuk ke dalam skuad Bali United U-20 yang tengah mempersiapkan tim menjelang Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 U-20 mendatang. Di bawah arahan Coach Made Pasek Wijaya, ia berjuang bersama rekan-rekannya.

"Awalnya saya diberi tahu oleh pak manajer Sulut United bahwa ada tim yang akan ikut EPA U-20 membuka seleksi selama satu minggu. Lalu sampai di sini (Bali) dan sudah ikut seleksi, saya bisa bergabung ke dalam tim Bali United U-20," ungkap Figo.

"Tujuan saya pergi ke Bali adalah untuk menambah jam terbang dan menambah pengalaman bermain di luar daerah serta keluar dari zona nyaman. EPA tahun ini menjadi terakhir kali pemain kelahiran 2003 bermain, jadi saya ingin bermain di kompetisi ini," imbuh Figo.

Sebagai pendatang baru, pesepak bola yang mengidolai Luka Modric ini pun merasakan adanya sejumlah perbedaan di Bali United U-20 dengan tim senior Sulut United. Namun, ia bertekad untuk mengesampingkan hal tersebut.

Figo pun menjadikan pengalamannya bermain dan berlatih dengan sejumlah pemain andalan Gorango Utara –julukan Sulut United– sebagai nilai plus sekaligus modal. Berkat hal tersebut, ia menjadi lebih tenang dan cerdik dalam mengambil keputusan di atas lapangan hijau.

Namun, meski memiliki pengalaman lebih, pemain kelahiran 23 Juni tersebut enggan untuk besar kepala. Ia tetap merasa lapar akan pengalaman dan terus belajar.

"Tentu ada perbedaan, karena saat di Sulut United, saya bersama tim senior. Sedangkan di Bali United saya bersama tim U-20 yang seusia, jadi sama-sama belajar. Kalau bersama senior, pasti banyak belajar. Jadi, ketika berlatih bersama pemain yang seusia, sudah terbiasa dan mempunyai bekal untuk EPA U-20," papar Figo.

Harapannya bersama Bali United U-20 pun besar. Figo ingin memberikan yang terbaik bagi skuad Serdadu Tridatu Muda.

Ia tidak ingin kepergiannya jauh dari kampung halaman ini menjadi sia-sia. Maka dari itu, Figo bertekad untuk bahu membahu bersama Kadek Arel dkk. untuk membawa Bali United U-20 menjadi juara EPA Liga 1 2022/2023.

"Bisa sukses bersama, menjaga kekeluargaan di dalam tim, membawa kemenangan dan juara di EPA U-20 tahun ini," harap Figo.

Dari kisah Figo ini, nama yang diberikan oleh kedua orang tua memiliki makna yang dalam serta terselip doa tulus bagi masa depan. Jadi, teruslah bersyukur dan berusaha untuk mewujudukan mimpi serta membahagiakan orang tua.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS