6 November 2022

FAKTA MENARIK DARI PEREBUTAN GELAR JUARA LIGA 1 2017 DI STADION ANDI MATTALATTA

Pada hari Minggu (6/11) ini diperingati dengan peristiwa lima tahun silam saat tim Bali United melakoni partai pekan ke-33 menghadapi tuan rumah PSM Makassar. Saat itu, gelar juara Liga 1 2017 terbuka lebar terhadap tiga tim, yaitu Bali United, PSM Makassar dan Bhayangkara FC.

Tiga tim ini memiliki poin yang sama yaitu 62 poin. Pertemuan Serdadu Tridatu dengan Juku Eja pekan ke-33 dikatakan sebagai partai final karena peluang kedua tim sangat besar dan laga pun berangsur dengan intensitas tinggi.

PSM Makassar waktu itu dinahkodai Robert Rene Alberts dan menurunkan 11 pemain terbaik mereka. Penjaga gawang saat itu dihuni oleh Rivki Mokodompit, memasang empat pemain belakang yaitu duet center back Hamka Hamzah sebagai kapten dengan Steven Paulle, ditopang Wasyiat Hasbullah dan Zulfikli Syukur.

Kemudian lini tengah diisi oleh Marc Klok, Wiljan Pluim dan Rizky Pellu. Lalu lini depan menghadirkan trio penyerang lokal Rahmat, Zulham Zamrun dan ujung tombak Ferdinand Sinaga.

Sementara Bali United yang dinahkodai Widodo Cahyono Putro juga memasang komposisi pemain yang mumpuni sebagai lawan. Wawan Hendrawan di sektor penjaga gawang. Kemudian duet Ahn Byun Keon dengan Agus Nova sebagai tembok pertahanan dan disokong Ricky Fajrin sebelah kiri serta Dias Angga pada sektor kanan pertahanan.

Untuk lini tengah saat itu, Nick Van der Velden mendapat tugas baru mengisi sektor penyeimbang dibantu dua pemain lokal Gede Sukadana dan Taufiq yang menjadi kapten. Lini depan pun dihuni oleh trio Belanda Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim dan Sylvano Comvalius yang semakin memperkuat “Dutch Connection” Serdadu Tridatu.

Partai yang memperebutkan tiga poin berharga ini berlangsung di Stadion Andi Mattalatta Mattoanging, Makassar dan dipimpin oleh wasit asing, Murzabekov Eldos. Laga ini pun memberikan fakta menarik saat pertandingan maupun sesudahnya. Inilah fakta menarik yang terjadi dari laga perjumpaan PSM Makassar menghadapi Bali United pada 6 November 2017 dan sesudahnya.

  1. LAGA INTENSITAS TINGGI

Persaingan papan atas Liga 1 2017 di pekan ke-33 telah memanas sejak peluit pertama berbunyi. Kedua tim baik PSM Makassar selaku tuan rumah dan Bali United sebagai tim tamu yang ingin mencuri poin berharga berjuang sejak menit awal. Benturan, saling sikut hingga tekel mentekel terjadi dari kedua kubu demi mencetak gol pertama. Terlihat dari menit ke-17 dimana Gede Sukadana bersitegang dengan Ferdinand Sinaga usai sapuan yang dilakukan demi menjaga daerah pertahanan Serdadu Tridatu.

Bukan hanya antar lawan, rekan sesama tim juga bersitegang. Pada menit 41, Stefano Lilipaly berseteru dengan sang striker pengoleksi 37 gol, Sylvano Comvalius. Kubu Serdadu Tridatu pun sempat kacau karena perseteruan antar kolega.

Namun semua itu terobati saat penghujung babak kedua, umpan matang Sylvano dikonversikan Lilipaly menjadi gol penentu kemenangan. Alhasil, intensitas tetap memanas di akhir laga, usai fans Juku Eja mengekspresikan kekecewaan dengan melempar botol dan melakukan pemukulan ke arah skuad Serdadu Tridatu. Kericuhan pun mewarnai laga ini.

  1. PERGANTIAN PEMAIN

Kemenangan tipis milik Bali United melalui gol tunggal Stefano Lilipaly atas tim tuan rumah PSM Makassar membuka peluang Bali United meraih gelar juara pada saat itu. Apalagi skuad Serdadu Tridatu pada musim itu terbilang menjadi tim yang subur dalam urusan mencetak gol dimana Sylvano Comvalius menjadi pemegang top skor sepanjang masa sejauh ini dengan raihan 37 gol dalam satu musim.

Jika melihat susunan pemain dari kedua tim kala itu, baik Bali United maupun PSM Makassar melakukan bongkar pasang pemain pada musim 2022/2023 ini. Dimana kedua pelatih baik Robert Rene Albert maupun Widodo Cahyono Putro tidak memegang kendali atas kedua tim ini lagi. Pada era musim ini, Bernardo Tavares bersama PSM Makassar dan juga Stefano Cugurra dengan Bali United sama-sama mempertahankan satu pemain starting XI di era Liga 1 2017 lalu. PSM dengan keberadaan Wiljan Pluim sebagai kapten dan Bali United yang dihuni Ricky Fajrin dari sektor kiri pertahanan.

Menariknya lagi, terjadi pertukaran pemain sesudah edisi perjumpaan di Liga 1 musim tersebut. Rahmat dan Rizky Pellu yang menjadi lawan di Liga 1 2017, kini menjadi andalan skema Stefano Cugurra di Bali United. Sementara itu, Hasyim Kipuw yang menjadi pemain kunci dalam memberikan umpan kepada Sylvano penghujung babak kedua usai mematahkan penetrasi Titus Bonai merapat ke PSM Makassar tahun 2018.

  1. STADION YANG TINGGAL KENANGAN

Pertandingan antara PSM Makassar dengan Bali United pada Liga 1 2017 di paruh kedua berlangsung di Stadion Andi Mattalatta Mattoanging, Makassar.

Stadion yang lebih dikenal dengan nama Mattoanging ini merupakan markas bersejarah PSM Makassar. Stadion ini diresmikan pada 6 Juli 1957 silam dan awalnya dipersiapkan sebagai pusat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang ke-4 pada tahun itu.

Dahulu, lahan stadion ini merupakan perkebunan milik pemerintah Hindia Belanda. Namun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia, Panglima Kodam XIV/Hasanuddin, Jenderal Andi Mattalatta memprakarsai lahan tersebut diubah menjadi stadion olahraga.

Stadion ini dibangun dengan kapasitas mencapai 15.000 orang. Nama stadion ini pertama kali disebut Mattoanging. Dalam bahasa Makassar, Mattoa berarti melirik, melihat, atau menengok. Sedangkan kata anging berarti angin. Jika digabungkan berarti melihat angin.

Penamaan Stadion Mattoanging ini diberikan karena tempatnya yang berada di daerah pantai tempat perlabuhan perahu pinisi. Dahulu para awak menengok angin untuk melihat tanda cuaca dalam keadaan baik atau siap melakukan pelayaran. Namun seiring berjalannya waktu, nama Stadion Mattoanging berubah menjadi Stadion Andi Mattalatta yang bertujuan untuk menghormati pendirinya, Jenderal Andi Mattalatta.

Sepanjang perjalanan, Stadion Andi Mattalatta ini menjadi pusat proyek perpolitikan di era Nurdin Abdullah. Gubernur Sulawesi Selatan ini merencanakan renovasi stadion yang mulanya menampung 15.000 menjadi 40.000 penonton tanpa lintasan atletik dengan tribun yang tertutup dan single seat. Namun sayang, saat stadion sudah dibongkar pada 21 Oktober 2020 lalu, Nurdin Abdullah terjerat kasus dan proyek stadion tidak berjalan. Kini, stadion Andi Mattalatta menjadi kubangan bekas galian yang sudah memakan 3 korban jiwa.

Kabar segar pun datang di era Gubernur Sulsel yang dilantik tahun ini, Andi Sudirman Sulaiman. Mantan wakil Nurdin Abdullah tersebut merencanakan lanjutan pembangunan stadion Mattoanging dengan beberapa perubahan desain yang direncanakan sebelumnya. Salah satunya membangun kembali lintasan atletik dalam stadion dan pemasangan atap tribun yang hanya dibangun di sisi barat dan timur dari stadion. Sejauh ini baru memasuki pengundian tender pembangunan edisi ketiga.

Hilangnya stadion Mattoanging membuat PSM Makassar pada musim ini harus berpindah kandang dari Makassar ke stadio BJ. Habibie yang berlokasi di Parepare.   

  1. PERJUANGAN YANG TIDAK MEMBUAHKAN HASIL

Meski pertarungan PSM Makassar menghadapi Bali United pada 6 November 2017 berangsur dengan intensitas tinggi dan kericuhan di akhir laga. Namun perjuangan kedua tim tersebut tidak terbayarkan dengan lunas. Sebab baik Bali United maupun PSM Makassar gagal keluar sebagai juara usai Bhayangkara FC yang memastikan diri sebagai peraih gelar tahta juara Liga 1 musim tersebut.

PSM Makassar yang sudah menanti gelar juara selama 17 tahun, harus dipupuskan oleh sang tamu, Bali United. Kalahnya pun menyakitkan, satu gol di penghujung babak kedua menyebabkan kekecewaan mendalam dari para fans Juku Eja. Kericuhan pun mewarnai laga pekan ke-33 tersebut. Aksi memukau Marc Klok melepaskan tendangan melengkung yang hampir membuka keunggulan Juku Eja, penetrasi Rahmat yang berlari kencang mengancam pertahanan Serdadu Tridatu, dan beberapa kali tembakan keras dari luar kotak penalti Rizky Pellu belum membuahkan hasil.

Begitu juga dengan Bali United. Meski menjadi tim pendatang baru di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Indonesia, namun permainan Serdadu Tridatu terbilang atraktif. Kala itu, Wawan Hendrawan tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan yang "aduhai" mengamankan gawang Serdadu Tridatu. Hal ini membuat pasukan Juku Eja geleng kepala.

Pada musim itu, Fadil cs mengoleksi 76 gol melalui permainan yang ciamik dengan lumbung gol mereka ke gawang lawan menjadi hiburan yang dikenang sepanjang masa di sepak bola Indonesia. Terlebih bagi fans Serdadu Tridatu yang kembali merasakan memiliki tim profesional dari pulau dewata.

Sang juara musim itu, Bhayangkara FC memiliki poin 68 sama dengan Bali United hingga pekan ke-34. Bedanya, Bhayangkara unggul head to head atas Serdadu Tridatu. Seharusnya The Guardians hingga akhir kompetisi hanya mengoleksi 66 poin dan Bali United yang sukses meraih gelar juara dengan 68 poin.

Semuanya itu pupus setelah surat Komdis PSSI nomor 112/L1/SK/KD-PSSI/X/2017 tanggal 5 November menyatakan bila Mitra Kukar kalah 0-3 atas Bhayangkara FC dan diwajibkan membayar denda 100 Juta karena memainkan pemain tidak sah, Mohamed Sissoko saat menjamu Bhayangkara FC di stadion Aji Imbut, Tenggarong hari Jumat (3/11/2017). Kedua tim sebenarnya bermain imbang 1-1 yang seharunya mendapatkan satu poin bagi kedua tim.

Meski begitu, Bhayangkara FC tetap keluar sebagai juara di musim tersebut. Bali United menempati urutan kedua dengan raihan poin sama disusul PSM Makassar dengan 65 poin.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS