2 December 2022

ON THIS DAY: KISAH SATU BINTANG DARI TANAH MINANG

Kisah satu bintang tersemat melalui perjuangan di Tanah Minang.

Kota Padang di Sulawesi Barat akan selalu menjadi tempat spesial dan tidak akan pernah dilupakan bagi Bali United.

Bukan perkara soal kenikmatan makanan khas Tanah Minang yang menggoyang lidah, tetapi lebih dari itu.

Di tanah kelahiran diplomat ulung Indonesia, Haji Agus Salim-lah sejarah manis pasukan Serdadu Tridatu tercipta.

Tepat pada 2 Desember 2019, satu bintang emas resmi tersemat di atas logo kebanggaan kami.

Bintang yang tidak hanya sekadar menjadi penghias lambang sakral klub kami, tetapi ia adalah bukti sahih bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Klub muda yang pada saat itu baru genap berusia empat tahun mampu menjadi juara Liga 1 2019 dan meruntuhkan hegemoni tim sarat pengalaman lain.

Laga hidup dan mati menghadapi tim tuan rumah, Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim menjadi ujian berat kami untuk merengkuh gelar juara liga.

Pada saat itu, kedua tim sama-sama memiliki motivasi berlipat, di mana tuan rumah ingin mempersembahkan kado manis ulang tahun ke-39 kepada publiknya sendiri, sedangkan kami tentu berambisi memburu trofi perdana.

Hal tersebut membuat jalannya laga pada babak pertama berlangsung cukup berimbang, baik Bali United maupun Semen Padang sama-sama memperagakan permainan cepat.

Sejumlah peluang emas sempat tercipta pada 45 menit pertama salah satunya pada menit 22 lewat eksekusi tendangan jarak jauh Flavio Beck Junior bagi skuad Kabau Sirah.

Namun, kegemilangan Wawan Hendrawan berhasil menggagalkan peluang tersebut.

Tidak tinggal diam, pasukan Stefano Cugurra merespons pada menit 43 lewat sundulan Yabes Roni.

Memanfaatkan umpan terukur dari sisi kanan, Yabes yang tidak terkawal menyambut dengan sundulan, tetapi sayang bola tidak mengarah ke gawang.

Babak pertama berakhir sama kuat 0-0.

Memasuki babak kedua, kami berinisiatif untuk meningkatkan tempo pertandingan.

Alhasil, keunggulan perdana berhasil diraih berkat usaha Ilija Spasojevic pada menit 51.

Dengan cerdik striker bernomor 9 tersebut menyundul bola umpan Yabes Roni untuk menjebol gawang Semen Padang dan skor 1-0 berhasil diamankan.

Meski unggul, posisi kami belum aman. Pasalnya tim rival terus merangsek ke pertahanan yang digalang oleh Willian Pacheco.

Namun, lagi-lagi kami beruntung memiliki sosok Wawan Hendrawan di bawah mistar.

Kali ini Sang Spiderwan sukses menepis sepakan keras terukur dari kaki kiri Irsyad Maulana tepat pada menit 74.

Meski menerima gempuran, tetapi dengan bekal Semangat Puputan, kami terus berusaha menggandakan keunggulan.

Pada menit 85, Ilija Spasojevic kembali sukses mencatatkan namanya di papan skor.

Kali ini kerja sama apik dengan Paulo Sergio sukses diakhiri dengan sontekan yang mampu membuat Bali United unggul 2-0 atas tuan rumah.

Peluit panjang pun berbunyi. Keunggulan tetap menjadi milik kami.

Sontak luapan kegembiraan, tangis haru, dan sukacita membumbung tinggi dari setiap kami.

Tidak peduli seragam putih kami dipenuhi lumpur, tetapi itulah yang jadi saksi betapa beratnya perjuangan ini.

Namun, semuanya terbayar lunas dengan satu bintang yang sukses kami petik dari Tanah Minang.

Kami pun mengakhiri musim sebagai yang terbaik dengan koleksi 64 poin hasil 19 kemenangan, 7 imbang, dan 8 kekalahan.

2 Desember 2019.

Sebuah hari yang selalu dikenang.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS