14 October 2022

TAK SELAMANYA RUMPUT TETANGGA LEBIH HIJAU! MENGENAL LEBIH DEKAT DENGAN I KETUT KARJAYA SEBAGAI GROUNDSMAN STADION DIPTA

Salah satu aspek penunjang untuk keberhasilan dari sebuah klub sepak bola adalah kualitas dari rumput yang digunakan sebagai sarana sebuah pertandingan.

Kualitas rumput yang terjaga dan baik akan membantu tim itu menjaga aset para pemainnya agar terhindar dari cedera dan memudahkan suatu pertandingan berjalan dengan lancar.

Perawatan rumput yang berkala agar tetap baik tersebut diurus oleh mereka yang menjadi “Groundsman” dari Stadion klub itu sendiri.

Groundsman adalah perawat lapangan stadion yang dimiliki sebuah klub sepak bola. Ia yang bertugas merawat rumput stadion sehingga para pemain merasa nyaman bermain di lapangan tersebut.

Tidak heran, pada sepak bola Eropa, peran Groundsman ini cukup vital dan menjadi ajang perebutan kursi panas antarklub hingga organisasi di Eropa daratan.

Bisa dilihat nama Paul Burgess, Groundsman Blackpool dan Arsenal yang dibajak oleh klub raksasa Spanyol, Real Madrid pada tahun 2009. Adapula Dan Gonzales yang sukses di klub kecil AFC Bournemouth yang kemudian dibajak Atletico Madrid.

Groundsman terbaik Inggris saat mengelola rumput lapangan Ipswich Town, Alan Ferguson yang kini memperoleh jabatan di bidang lapangan sepak bola di FIFA. Selain itu ada juga Tony Stones, Groundsman Barnsley yang kemudian mengelola Wembley akhirnya dibajak pengelola Stadion Nasional Prancis, Stade de France.

Jika melihat lebih dekat, ternyata Bali United juga memiliki seorang yang berjasa dalam merawat rumput dari Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Beliau adalah I Ketut Karjaya yang kerap dikenal Pak Petruk oleh kalangan masyarakat di Stadion Dipta. Sejak tahun 2014, Ketut Karjaya mulai belajar secara otodidak untuk mengelola dan merawat rumput lapangan Stadion hingga fasilitas penunjang di area Stadion kebanggaan masyarakat Bali.

“Saya sudah bertugas untuk mengurus stadion ini sejak tahun 2014 dari awal mula inilah saya mulai menanam rumput hingga menjadi saat ini. Saya mencintai pekerjaan ini dan bekerja dengan hati. Pengalaman yang saya jadikan media belajar. Kalau gagal, ya belajar lagi karena yang saya pelajari itu adalah sebuah rumput yang terus berkembang,” jelas Ketut Karjaya.

Menjadi Groundsman ini membawa perubahan juga bagi ekonomi keluarga dari Pak Petruk. Sebelumnya, pria asal Banjar Getas, Buruan ini bekerja serabutan.  Namun kini ia memiliki tanggung jawab atas 12 pegawai yang bekerja dibawah komandonya untuk menjaga kualitas rumput dan kebersihan lingkungan Stadion Dipta. Hal ini didasari karena beliau mencintai klub tanah kelahirannya.  

“Saya menghidupkan rumput dan rumput menghidupkan saya. Banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan saya, salah satunya adalah ekonomi yang membaik. Karena mencintai stadion Dipta dan mencintai Bali United, saya selalu ingin menampilkan rumput stadion Dipta ini semakin baik dan indah,” imbuh pria 47 tahun ini.

Rumput yang digunakan dalam lapangan Stadion Dipta ini adalah zoysia matrella atau yang lazim dikenal sebagai rumput Manila, berasal dari keluarga Poaceae. Jenis rumput ini tumbuh dan berkembang di wilayah Asia.

Dikutip dari beberapa jurnal ilmiah botani, rumput Zoysia matrella memiliki ciri daun yang rucing, warna hijau pekat, dan rigiditas yang rapat. Dilengkapi akar yang kuat membuat rumput jenis ini aman ketika bersentuhan langsung dengan sepul sepatu sepak bola.

Zoysia matrella biasanya ditanam menggunakan media pasir dan juga memiliki tingkat elistisitas yang sangat baik. Dengan demikian, aliran bola sempurna menggelinding tanpa mengurangi kecepatannya karena tekstur akarnya sangat kuat.

Zoysia matrella bisa dibilang rumput manja karena harus disiram sekali setiap hari ditambah diberi pupuk. Rumput tersebut juga minimal harus dipangkas per dua pekan dan dianjurkan hanya dipakai untuk pertandingan sepak bola.

“Saya selalu menyiram rumput setiap hari, memotong rumput harus tiga kali dalam seminggu dan pemberian pupuk setiap bulan. Ini untuk menjaga agar rumput tetap terjaga,” jelas Pak Petruk yang belajar dengan Direktur PT Harapan Jaya Lestarindo, Bapak Marwoto.

Kecintaan pria asal Blahbatuh ini mengandaikan bila Stadion Dipta seperti rumah kedua dan rumput yang dirawatnya seperti seorang anak yang dijaga. Bila tidak datang dan berkunjung seperti ada yang dirindukan untuk disinggahi.

“Stadion Dipta sudah seperti rumah kedua saya dan rumput ini dirawat seperti anak sendiri. Kalau tidak dikunjungi itu rasanya seperti ada yang kurang,” ujarnya.

Memang pemandangan rumput Stadion Dipta memanjakan mata bagi yang hadir untuk menyaksikan pertandingan Bali United, sehingga sangat dirindukan untuk kembali datang. Kualitas rumput ini diakui sudah standar FIFA dan bahkan AFC. Kompetisi kualifikasi AFC 2022 dan ajang Piala Dunia U-20 2023 menjadi bukti bahwa kesiapan Stadion Dipta sudah sangat layak menjadi salah satu destinasi olahraga dunia.

Sebagai seorang yang mengurus lapangan tim profesional dan bekerja di bidang olahraga sepak bola, Ketut Karjaya nyatanya juga memiliki tim idola dari luar negeri. Klub yang membesarkan dan kini berkarier dari Cristiano Ronaldo, Manchester United menjadi klub asal Eropa yang diidolakan sejak kecil.

Laga Premier Inggris tidak pernah dilewatkan untuk ditonton. Bukan hanya menonton jalannya pertandingan, tapi menyaksikan tampilan rumput lapangan di Stadion Eropoa menjadi pusat perhatiannya. Bahkan ada keinginan yang besar dari seorang Groundsman Bali United ini bisa kedatangan tim setan merah untuk menikmati rumput lapangan yang selama 8 tahun terakhir ini dirawat.

“Saya sering menyaksikan pertandingan Liga Inggris, tapi yang menjadi pusat perhatian bukan jalannya pertandingan, melainkan tampilan rumput mereka di Eropa. Saya dari kecil suka sama Manchester United dan ada harapan mungkin suatu saat mereka bisa merasakan rumput Stadion Dipta yang selama ini saya rawat,” tutupnya dengan penuh harapan.

Jika melihat dalam sebelas pekan BRI Liga 1 2022/2023, penampilan Bali United di atas lapangan Stadion Dipta selama 6 laga menjadi bukti penampilan rumput Dipta yang memanjakan mata. Rumput yang berpola dan mendatar memudahkan para pemain terhindar dari cedera dan dengan mudah mengalirkan bola sesuai strategi yang dijalankan tim pelatih Serdadu Tridatu.   

Sehat terus untuk berkarya Pak Ketut Karjaya!

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS