6 June 2022

DESAK PUTU RINA JAYANTI JADI BUKTI BAHWA SELALU ADA TEMPAT BAGI PEREMPUAN DI SEPAK BOLA INDONESIA

Sepak bola, menjadi olahraga yang seringkali diidentikkan dengan maskulinitas.

Ditambah lagi, kontak fisik bahkan konflik antarpemain yang kerap terjadi seolah semakin memperkuat anggapan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, stigma tersebut perlahan mulai memudar.

Kompetisi dan pembinaan sepak bola wanita mulai bermunculan untuk menunjukkan eksistensi kaum hawa di tengah dominasi kaum adam.

Pesepak bola perempuan pun turut aktif unjuk kemampuan dan bakatnya di atas lapangan hijau.

Tidak hanya turun sebagai pemain saja, tetapi perempuan juga hadir sebagai tim ofisial.

Salah satunya adalah fisioterapis Bali United Youth, Desak Putu Rina Jayanti.

Perempuan yang akrab disapa Ina ini telah bergabung sebagai tim medis Serdadu Tridatu Muda sejak tahun 2020 silam.

Sebelum bersama Bali United Youth, ia terlebih dahulu bertugas di tim Bali United Women pada tahun 2019 lalu.

“Awalnya saya mendapatkan informasi dari kakak tingkat kalau ada lowongan fisioterapis perempuan di tim putri Bali United. Kebetulan saya memang pengen jadi fisioterapi sepak bola di Bali United. Jadi saya coba saja dan setelah interview akhirnya diterima,” jelasnya.

Bekerja di dunia yang terbilang baru, tentu memerlukan proses pembelajaran dan penyesuaian.

Ia pun mengakui terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

“Tantangannya adalah mempelajari bagaimana seorang laki-laki, sepak bola itu apa, kapan saatnya saya masuk atau tidak boleh masuk ke lapangan,” ungkap Ina.

Meskipun demikian, pemilik paras ayu ini mengaku menikmati pekerjaannya menjadi tim fisioterapis klub sepak bola.

Fisioterapis lulusan Universitas Dhyana Pura ini tidak memungkiri sempat ada kecanggungan saat pertama kali terjun di dunia yang didominasi oleh kaum adam ini.

Seiring berjalannya waktu, Ina pun mampu beradaptasi dan bersyukur dikelilingi oleh rekan-rekan yang menghormati dirinya sebagai perempuan.

“Sejauh ini pengalamannya sih seru ya. Apalagi saya cewek sendiri di industri yang bukan rata-rata lagi, tetapi memang didominasi laki-laki. Seru aja gitu. Awalnya pasti canggung, tapi lama kelamaan bisa lebih nyambung. Untungnya mereka semua bisa menghormati saya sebagai perempuan dan tidak pernah melewati batas,” ujar Ina sembari tersenyum.

Seperti bola yang terus bergulir, kejadian tidak diinginkan sempat Ina alami kala melaksanakan tugasnya bersama tim Bali United Youth U-18 dalam turnamen International Youth Championship pada April lalu.

Ketika perempuan asli Bali ini memasuki lapangan untuk merawat pemain, ia menerima aksi seksisme berupa siulan dari penonton yang memadati Jakarta International Stadium (JIS).

Menerima tindak pelecehan tersebut, Ina sontak kaget dan terganggu.

Namun, ia tetap berusaha profesional menjalankan tugasnya sebagai tim medis.

“Jadi tindakan itu termasuk catcalling atau pelecehan verbal dari oknum penonton di stadion JIS (Jakarta International Stadium). Saya pribadi sebagai seorang perempuan pasti terganggu. Karena ketika saya masuk ke lapangan disoraki dan ada perkataan yang tidak mengenakan.
Tapi itulah risiko atas pilihan pekerjaan saya,” ungkap Ina dengan mata berkaca-kaca.

“Ke depannya tentu harus diperbaiki untuk kebaikan kita dan sepak bola Indonesia. Karena fans sepak bola itu bukan hanya laki-laki. Apalagi kami sebagai tim medis bekerja secara profesional, tidak memandang gender. Pemain adalah partner kerja kami,” sambung Ina.

Perempuan berambut panjang ini sadar betul bahwa tindakan diskriminasi terhadap kaum hawa masih kerap terjadi saat ini, khususnya di lingkungan sepak bola.

Ina pun berharap hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi para perempuan untuk memperjuangkan mimpinya.

“Sebagai perempuan, kalau itu memang sudah jadi pilihan bekerja di lingkungan yang didominasi laki-laki, jalan aja. Karena itu sudah pilihan, jangan stuck dengan pikiran bahwa cewek gak bisa berbaur dengan laki-laki, jadi tim medis, atau official tim sepak bola. Jangan seperti gitu. Kita juga berhak berkembang. Kita juga berhak ada di tribun, di lapangan, di bench, dan sekitarnya,” tegas Ina.

Besar harapannya agar para perempuan terus mau berjuang untuk diri sendiri dan sadar bahwa mereka memiliki hak yang sama dan setara dengan laki-laki.

“Pesan saya untuk semua perempuan, ingat pesan Raden Ajeng Kartini, kita perempuan harus berjuang dan kaum perempuan punya hak yang sama dengan laki-laki,” ujarnya.

Dengan tatapan teduh, ia pun mengapresiasi semua pihak yang telah sadar akan pentingnya kesetaraan gender dalam sepak bola Indonesia.

“Jadi untuk para suporter lainnya, laki-laki maupun perempuan, cobalah menghargai sesama. Intinya, siapa pun yang ada di lapangan, kita bekerja, menikmati sepak bola, dan berhak ada di mana pun. Terima kasih juga untuk semua orang yang telah menghormati dan memperjuangkan kesetaraan untuk para perempuan di dunia sepak bola” pungkasnya dengan senyuman lebar.

Sepak bola adalah milik semua orang. Bulatnya bola melambangkan bahwa tidak ada batasan bagi siapapun untuk dapat memainkannya.

Tetap semangat Kak Ina, teruslah jadi inspirasi bahwa perempuan selalu punya tempat di sepak bola Indonesia!

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS