25 July 2022

DOA & RESTU ORANG TUA YANG ANTARKAN KADEK SATRIA MENEMBUS SELEKSI “THE NEXT GEN BALI”

Program seleksi pemain Bali United Youth bertajuk “The Next Gen Bali” telah resmi berakhir pada 22 Juli lalu. Sebanyak 30 pemain dari tiga kelompok usia mulai dari U-14, U-16, hingga U-18 telah berhasil lolos menjadi skuad Serdadu Tridatu Muda.

Ajang seleksi pemain ini sendiri terbuka untuk diikuti oleh seluruh pemain di Indonesia. Total 1.000 orang telah mendaftarkan diri untuk mengikuti program “The Next Gen Bali” ini.

Datang dari beragam latar belakang daerah, sekolah sepak bola, hingga keluarga, seluruh talenta muda tersebut berjuang untuk menggapai mimpinya. Selama tiga hari menjalani ujian mulai tanggal 20 hingga 22 Juli di atas lapangan Training Center Bali United di Pantai Purnama, para pemain tersebut berusaha menunjukkan permainan terbaiknya.

Tidak hanya menunjukkan performa di atas lapangan saja, tetapi para peserta itu membawa cerita menarik. Beragam kisah yang mengiringi perjuangan mereka bukan hanya menyentuh, tetapi juga bisa memberikan inspirasi.

Salah satunya datang dari Kadek Satria Putra Pratama yang mengikuti seleksi Bali United Youth U-16. Bocah yang akrab disapa Satria itu menjadi bagian dari 30 nama yang terpilih masuk ke dalam skuad Serdadu Tridatu Muda.

Raut haru sekaligus senang terpancar jelas pada wajah pemain berusia 16 tahun selepas mendengar namanya terpilih lolos seleksi “The Next Gen Bali”.

“Yang saya rasakan selama tiga hari itu deg-degan dan senang juga bisa lolos seleksi hari ini (22/7). Juga senang punya teman-teman baru,” ujar Satria.

Satria tidak dapat menutupi rasa senangnya bisa mengakhiri beratnya rangkaian seleksi dengan manis. Sebab, ia berangkat dengan dukungan dan restu penuh dari kedua orang tuanya.

Kabar kelolosan itu tentu akan menjadi pesan pembawa kebahagiaan bagi keluarganya. Karena, Satria berasal dari keluarga yang terbilang sederhana.

Pemain binaan klub Paradise Football Academy Bali itu memiliki ayah yang berprofesi sebagai supir taksi, sedangkan sang ibu adalah asisten rumah tangga.

“Saya berasal dari keluarga sederhana, bapak saya berprofesi sebagai sopir taksi dan ibu saya adalah asisten rumah tangga,” jelas Satria.

Satria terbilang beruntung memiliki orang tua yang selalu suportif mendukung mimpinya menjadi pesepak bola profesional. Kerja keras dilakukan oleh ayah dan ibunya demi menyediakan segala kebutuhannya bermain bola.

Namun, akibat kesibukan mencari nafkah, orang tua Satria jarang hadir menemani perjuangan sang anak dari sisi lapangan. Meskipun begitu, tetapi ia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut.

“Orang tua saya sangat mendukung dan sampai banting tulang untuk membelikan sepatu baru. Namun sayang, mereka jarang menemani saya latihan dan bertanding,” sambung Satria.

Berasal dari keluarga sederhana membuat Satria dan orang tuanya tidak jarang harus melakukan sejumlah kompromi khususnya dalam pengeluaran. Sebagai contoh ketika ingin membeli peralatan bermain bola, pemain kelahiran Denpasar itu harus lebih sedikit bersabar.

Satria pun memaklumi hal tersebut karena kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mumpuni.

“Saya punya keinginan untuk bisa membeli sepatu yang bagus. Namun, saat ini masih belum dapat karena bapak belum bisa membelikan, tapi saya maklumi karena kondisi keluarga,” jelas Satria.

Meskipun datang dari keluarga sederhana, tetapi Satria tidak rendah diri. Justru sebaliknya, ia malah semakin bersemangat mengejar mimpinya menembus skuad Bali United.

Beruntung, seluruh lingkungan sekitar Satria sangat suportif untuk mendukung perjalanan kariernya. Melihat itu, ia pun semakin bersemangat untuk membahagiakan mereka, khususnya orang tua.

“Saya tidak pernah minder akan kondisi keluarga saya. Saya hanya semangat untuk jadi pemain profesional. Beruntung juga keluarga dan teman-teman mendukung. Karena saya sangat ingin membahagiakan kedua orang tua yang mendukung saya bermain sepak bola,” kata Satria.

Walaupun telah berhasil menembus seleksi “The Next Gen Bali” tetapi Satria tidak ingin cepat puas dengan itu. Ia masih memiliki ambisi besar untuk terbang tinggi ke kompetisi internasional.

“Belum puas dan saya ingin lebih untuk bisa bermain di liga profesional luar negeri,” unkap Satria.

Tidak ketinggalan, Satria juga mengucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan dan pengorbanan dari orang terkasih selama ini. Hal tersebutlah yang terus membakar semangatnya mengejar mimpinya.

“Terima kasih untuk ibu dan bapak yang sudah mendukung saya menjadi pemain sepak bola. Saya sangat antusias sekali untuk membuktikan diri, walaupun dari keluarga kurang mampu. Saya sangat berterima kasih,” tutup Satia.

Perjalanan dan perjuangan Satria serta kawan-kawannya tentu masihlah sangat panjang. Ajang Elite Pro Academy 2022 menjadi panggung awal perjuangannya bersama Bali United Youth U-16 untuk memenangkan gelar juara.

Luar biasa Satria!

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS