3 October 2022

DUKA AREMANIA, LUKA KITA SEMUA!

Tragedi yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang menghadirkan duka yang mendalam bagi sepak bola Indonesia. Pertandingan pekan ke-11 BRI Liga 1 yang mempertemukan Arema FC dengan Persebaya pada Sabtu (1/10) lalu berubah menjadi pilu.

Sebanyak 125 orang harus kehilangan nyawanya ketika menyaksikan tim idolanya berlaga di atas lapangan hijau. Tidak ada yang pernah menduga bahwa stadion yang seharusnya menjadi tempat untuk menyuarakan dukungan justru berubah menjadi penuh teriakan histeris dan rintihan.

Luasnya hamparan lapangan hijau menjadi saksi lautan manusia yang berlari pontang panting menyelamatkan diri. Bangku-bangku tribun ditinggal penghuninya menyelamatkan diri di tengah kejaran maut.

Gema suara tabuhan perkusi yang mengiringi kaki melompat mengikuti irama tidak lagi terdengar. Semuanya terganti dengan pekikan sirine yang memecah keheningan malam.

Tangis air mata mengucur deras. Seribu kata sesal tidak lagi berarti, karena semuanya sudah terjadi.

Tragedi yang merenggut ratusan nyawa ini menjadi alarm keras bagi seluruh insan sepak bola nasional. Kematian ratusan orang sungguh tidak sebanding harganya untuk membayar fanatisme semu.

Atensi dan ungkapan berbelasungkawa mengalir deras dari dunia internasional. Berbagai negara dan klub sepak bola nun jauh di sana menyampaikan rasa simpatinya.

Mulai dari La Liga Spanyol, Ligue 1 Prancis, hingga Liga Premier Inggris turut merasakan kehilangan mendalam.

Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang menjadi pemantik kesadaran bagi seluruh pecinta sepak bola akan esensi utama dari olahraga ini, nyawa dan persaudaraan.

Berbagai kelompok suporter dan klub di Indonesia pun turut bersama-sama menunjukkan solidaritas, simpati, dan dukungan kepada seluruh korban dari tragedi kelam ini.

Tanpa memandang perbedaan, seluruh klub dan suporter kompak bersama bergandengan tangan, menghidupkan lilin harapan, sambil memanjatkan doa terbaik.

Semuanya dilakukan atas dasar cinta, solidaritas, dan kemanusiaan. Sebab, sepak bola sejatinya menyatukan dan bukan meminta korban.

Dukungan penuh terhadap korban, khususnya Aremania dan Aremanita pun juga diberikan oleh Bali United. Tepat pada hari Senin (3/10) malam ini, seluruh keluarga besar Bali United FC dan Bali United Basketball bersama Semeton bersatu hati di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

Di bawah awan mendung, berselimut dinginnya malam, seluruh elemen Serdadu Tridatu bersama-sama menghidupkan lilin kecil dan menaburkan bunga di tempat yang sama di mana kecintaan itu tumbuh, di stadion.

"Bukan waktunya untuk menyalahkan. Kami semua mencintai sepak bola, tetapi tidak seharusnya sepak bola menghilangkan nyawa. Tidak ada satu kemenangan yang sebanding dengan nyawa. Ini semua bukan hanya tentang sepak bola, tapi lebih dari itu. Dari sepak bola kita tahu arti mencintai tanpa dicintai, mengagumi tanpa dikagumi, makna berjuang sepenuh hati demi lambang di dada. Tidak ada salahnya juga mendukung tim sepenuh hati. Namun, jika nyawa taruhannya tentu itu salah. Pesan saya untuk seluruh suporter yang ada, nikmati sepak bola secukupnya, dukung tim sewajarnya, sebab sepak bola menyatukan bukan mematikan," ungkap salah satu suporter Bali United.

Memanglah mudah untuk saling menyalahkan dan melepaskan tanggung jawab. Namun, ingatlah bahwa perlu ada langkah dan tindakan nyata untuk segera memutus lingkaran buruk ini.

Sudah ada terlalu banyak nyawa harus hilang karenanya. Terlalu banyak sanak keluarga yang menanti tapi tidak pernah datang kembali.

Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah. Tidak terhitung berapa banyak darah yang bersimbah.

Alarm sudah berbunyi sangat keras. Kini sudah saatnya berbenah.

Sudah cukup waktunya untuk terlalu melebihkan, karena makna utamanya adalah menyatukan bukan menyakitkan, apalagi mematikan. 

Kita semua saudara, kita semua cinta sepak bola, sebagai saudara sudah sewajarnya saling menjaga.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS