25 July 2022

HIDUP & BESAR DARI PANTI ASUHAN, INI KISAH GUSTI EKA ADI YANG MAMPU TEMBUS “THE NEXT GEN BALI” 

Rumah idealnya menjadi tempat yang sempurna bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang. Di bawah hangatnya naungan cinta dan kasih tiada henti dari kedua orang tua, seorang anak belajar banyak hal dan mengukir memori terindah dalam hidupnya.

Namun, tidak semua anak beruntung mampu tinggal dalam hangatnya suasana rumah bersama kedua orang tuanya. Di luar sana, masih ada banyak anak-anak yang bahkan sejak kecil harus merasakan hidup jauh dari orang yang mereka kasihi.

Hal itu terjadi tentu bukan merupakan keinginan mereka sendiri, tetapi karena situasi keadaan. Panti asuhan pun menjadi pilihan kedua untuk tetap merasakan hangatnya kasih, meski tidak ada yang bisa menggantikan cinta yang tulus dari orang tua di rumah.

Keadaan tersebutlah yang harus dijalani oleh I Gusti Eka Adi Guna, salah seorang peserta seleksi “The Next Gen Bali”. Eka, begitu ia akrab disapa itu mengalami nasib yang bisa dikatakan kurang beruntung jika dibandingkan dengan anak seusianya.

Eka yang saat ini masih berusia 15 tahun itu harus rela tinggal di panti asuhan sejak tahun 2008. Itu berarti 14 tahun telah dihabiskannya tumbuh di panti asuhan.

Kondisi ekonomi keluarga yang kurang mampu memaksanya menjalani itu semua. Sebuah panti asuhan di daerah kelahirannya, yakni Tabanan menjadi tempatnya bernaung selama ini.

“Saya di panti asuhan sejak tahun 2008 dan sekarang berarti sudah 14 tahun tinggal di sana. Saya tinggal di panti asuhan karena berasal dari keluarga kurang mampu, jadi masuk dan dititipkan di panti asuhan,” jelas Eka.

Meski berasal dari keluarga tidak mampu dan bahkan harus dititipkan sejak kecil di panti asuhan tidak menyurutkan ambisinya menjadi pemain Bali United Youth. Hal itu terpancar jelas kala Eka berada di atas lapangan hijau.

Berposisi sebagai striker, Eka nampak begitu semangat menebar ancaman ke gawang lawan. Ia memiliki modal bagus sebagai seorang ujung tombak, yakni posturnya yang sangat tinggi menjulang.

Pada usianya yang baru menginjak 15 tahun ini, Eka memiliki postur tinggi 183 cm. Sudah tentu itu berada jauh di atas rata-rata anak seusianya. Ia mengaku bahwa karena keturunan dari sang ibu.

Hal tersebut tentu menjadi modal bagus baginya untuk menggapai mimpi menjadi pemain Bali United Youth. Ditambah lagi, Eka juga pandai membagi bola sebagai seorang pemantul.

Eka sendiri sempat mengalami hambatan ketika ingin mendalami dunia kulit bulat ini. Ia terhalang restu dari orang tua, utamanya sang ibu lantaran mereka khawatir kepada putra semata wayangnya ini.

Tidak kehabisan akal, pemain asal SSB Putra Debes Tabanan ini mencari celah untuk terus bermain bola. Alhasil, Eka menjadikan les di sekolah sebagai alasan untuk bisa berangkat ke lapangan hijau.

“Dulu hanya sekadar suka menonton sepak bola dan sempat bermain juga, tetapi orang tua kurang mendukung. Entah apa alasannya, tetapi mungkin karena saya anak tunggal. Dulu ada les di sekolah, saya sering alasan berangkat les padahal bermain bola,” kenang Eka sembari tertawa.

Beruntung baginya, berkat kerja kerasnya terus berlatih sepak bola, Eka berhasil menjadi salah satu pemain yang terpilih dari total 30 nama peserta yang berhak lolos ke tim Bali United Youth U-16. Setelah tiga hari mulai dari tanggal 20 sampai 22 Juli berusaha ekstra di bawah teriknya mentari lapangan Training Center Pantai Purnama, ia mampu menembus skuad Serdadu Tridatu Muda.

Hal tersebut tentu sangatlah disyukuri Eka. Sebab, perjalannya sangatlah tidak mudah untuk bisa lolos.

Meskipun menghabiskan banyak waktu jauh dari orang tua, tetapi Eka mampu membuktikan dirinya. Beruntung baginya, bahwa meski tinggal di panti asuhan, tetapi dia berada di bawah asuhan yang tepat.

Banyak pelajaran berharga yang Eka dapatkan selama tinggal di panti asuhan. Ia dibentuk menjadi seorang yang lebih mandiri dan mampu berkomunikasi dengan baik.

Hal tersebut diakui Eka sangat berguna bagi penampilannya di atas lapangan.

“Ada banyak hal yang saya pelajari selama di panti asuhan. Salah satunya adalah dididik untuk menjadi mandiri sejak kecil. Juga belajar berkomunikasi dengan orang banyak yang belum dikenal. Itu juga sangat mempengaruhi permainan saya di lapangan,” ucap Eka.

Meski telah dinyatakan lolos seleksi menjadi pemain Bali United Youth U-16, tetapi Eka enggan berpuas diri. Ia masih memiliki ambisi besar untuk lebih membuktikan diri dan menyamai sosok striker idolanya, yakni Ilija Spasojevic.

“Kalau puas, tentunya belum. Masih ada banyak kekurangan dan harus banyak belajar lagi,” sambung Eka.

Ternyata beberapa waktu sebelumnya, Eka pernah mengikuti seleksi pemain Bali United Youth juga. Namun, pada waktu itu ia memilih untuk menunda dahulu mimpinya.

Keadaan ekonomi yang masih begitu terbatas memaksanya untuk sementara waktu mengubur harapannya.

"Dulu sempat ikut seleksi, tetapi karena kondisi keluarga kurang memadai, karena belum ada sepeda motor, jadi mengundurkan diri," tutup Eka.

Kini, kesempatan besar datang kepadanya. Eka berpeluang menjadi generasi baru Bali United bersama Bali United Youth U-14 yang akan berlaga di kompetisi Elite Pro Academy 2022 mendatang.

Bukan tidak mungkin seiring dengan berjalanya waktu, Eka mampu menjadi sosok striker tajam seperti sang idola, Ilija Spasojevic di masa depan.

Selamat dan semangat terus Eka!

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS