1 November 2022

MATA HATI TAK PERNAH MATI! KENAL LEBIH DEKAT DENGAN BLIND SEMETON DEWATA, KEKURANGAN YANG MEMBAWA PADA PENGHARAPAN.

Suporter dapat dikatakan sebagai pemain kedua belas dari sebuah tim sepak bola yang bertarung di lapangan hijau. Jika para pemain berkorban dengan teknik, fisik serta taktikal berjuang meraih kemenangan di dalam lapangan, mereka yang menjadi suporter juga mengorbankan waktu, tenaga dan suara dalam memberikan dukungan dari atas tribun.   

Para penggemar tim sepak bola ini tidak dibatasi oleh suku, usia, agama, jenis kelamin, maupun latar belakang. Semuanya seolah dipersatukan tanpa ada batas pemisah.

Bahkan suporter dalam sepak bola bisa membentuk suatu organisasi atau komunitas suporter yang bertujuan menjadi wadah mempersatukan antarsuporter tim. Kebersamaan tersebut menghadirkan mereka untuk mendukung perjuangan timnya dalam berbagai pertandingan dan di luar pertandingan.

Lalu bagaimana jika suporter yang mendukung perjuangan tim yang dicintainya ini memiliki kebutuhan khusus karena kekurangan yang dimilikinya?

Seperti salah satu suporter tim besar dari Inggris, Liverpool  FC yang bernama Mike Kearney. Dia adalah penggemar The Reds yang memiliki keterbatasan dalam penglihatannya. Namun dari kekurangan tersebut ia semakin kuat dalam memberikan dukungan kepada Mohammed Salah dan kolega di lapangan.

Dia hadir pada laga Liverpool saat berhadapan dengan Napoli di babak penyisihan grup C Liga Champions 2018. Mike memang sering mendengar komentator memandu jalannya pertandingan Liverpool, namun pria yang kini berusia 32 tahun tersebut mengaku lebih senang merasakan secara langsung atmosfer suasana di Stadion Anfield. Ditemani sepupunya yang menjadi pemandu jalannya pertandingan, ia dengan bahagia mengikuti jalannya pertandingan meskipun tidak melihat secara langsung dari atas tribun.

Tim Liga 1, Bali United juga merasakan hal sama seperti Liverpool yang memiliki suporter militan dibalik kekurangan yang  dimiliki. Dia adalah Pande Putu Rifan, salah satu penyandang disabilitas tuna netra yang memiliki kecintaan terhadap tim asal tanah kelahirannya, Bali.

Rifan bahkan membentuk komunitas yang diberi nama Blind Semeton Dewata didampingi oleh salah satu guru dari sekolah berkebutuhan khusus di Denpasar, Bapak Nyoman Sudarma Putra. Komunitas ini terbuka untuk mereka yang memiliki kekurangan dalam penglihatan dan tertarik memberikan dukungan terhadap perjuangan Bali United di berbagai kompetisi di lapangan hijau.

“Saya adalah seorang guru untuk murid berkebutuhan khusus. Blind Semeton Dewata ini terbentuk pada tahun 2019. Saat itu saya mengajak anak-anak ke Legian untuk melihat persiapan Bali United. Mereka sangat senang karena pada waktu itu bertemu Spasojevic, Stefano Lilipaly dan Irfan Bachdim. Berangkat dari pengalaman waktu itulah, akhirnya anak-anak memutuskan untuk membuat komunitas fans Bali United dengan mewadahi mereka yang disabilitas, salah satunya tuna netra ini,” jelas Bapak Nyoman Sudarma.

Blind Semeton Dewata beranggotakan sebanyak lebih dari 25 orang dan tersebar bukan hanya di Bali saja. Namun, terdapat pula di daerah Malang dan Nusa Tenggara Timur. Mereka dengan setia mendukung perjuangan Bali United bukan hanya dari televisi, melainkan hadir langsung di Stadion Dipta. Semuanya dilakukan bukan dengan melihat, melainkan hanya mendengar suasana dan atmosfer yang terjadi di stadion.

“Kalau biasanya kami menikmati pertandingan langsung dari TV dengan mendengarkan komentator. Namun, di dalam stadion, kami mengikuti euforia suporter lain yang ada di stadion. Ada juga pendamping yang masih bisa melihat, jadi dia akan mendeskripsikan apa yang terjadi di atas lapangan. Jadi, berdasarkan itu kami akan terbawa suasananya,” imbuh Rifan.

Kali terakhir Rifan dan kawan-kawan hadir secara langsung ke Stadion Dipta adalah saat Bali United sukses mengalahkan RANS Nusantara FC (4/8) dengan skor 3-2 di kandang. Sepanjang 90 menit dari atas tribun, Rifan dan Komunitas Blind Semeton Dewata sangat antusias merasakan dan melihat dengan hati perjuangan Spasojevic cs di lapangan.

Kesetiaan Rifan dan kawan-kawan yang selama ini mendukung perjuangan para penggawa Bali United dari atas tribun mendapat balasan dari manajemen Serdadu Tridatu. “Pucuk dicintai, ulampun tiba”, mereka pada hari Sabtu (29/10) mendapat kesempatan untuk bermain bola dan merasakan rumput lapangan Training Center Pantai Purnama, Gianyar. Lebih  lengkap, mereka juga mendapat ilmu bermain bola bersama dua pemain Bali United, Rahmat dan Muhammad Ridho.

“Bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga manajemen Bali United yang mewujudkan mimpi kami merasakan lapangan latihan Bali United di tengah keterbatasan kami. Lapangannya bagus, rumputnya yang nyaman dan bertemu pemain Bali United adalah pengalaman yang luar biasa. Sebab jadi kebanggaan untuk kami yang disabilitas tuna netra ini dapat bermain langsung dengan pemain dari tim idola kami. Ini adalah kesempatan yang tidak akan dilupakan dalam hidup kami,” ucap Rifan yang asli dari Bangli ini.

Selama satu jam bersama di lapangan latihan yang berada pinggir pantai, Rahmat dan Ridho membagikan teknik bermain bola dan menjaga gawang. Rifan dan kawan-kawan tampak bergembira dan semangat meskipun memang mengalami kesulitan dalam melihat. Namun hati yang sudah terbawa pada cinta terhadap kulit bundar tidak dapat mengecilkan kekurangan tersebut. Sebaliknya, ada motivasi yang lebih untuk terus memberikan dukungan dan cinta kepada Bali United.

 

“Tentu sangat bangga sekali bisa bersama pemain Bali United. Jika ada jeda kompetisi seperti saat ini mungkin bisa meluangkan waktu untuk kami bermain bersama. Meski kami memiliki keterbatasan namun kami juga tetap bermain dengan teknik yang benar,” lanjut Rifan.

Pemuda yang mengidolakan Eber Bessa sejak kedatangannya untuk Bali  United di musim lalu ini memiliki harapan untuk tim Bali United. Rifan ingin Serdadu Tridatu bisa menjadi pelopor tim sepak bola disabiltas di Indonesia yang memiliki kompetisi sendiri untuk kaum berkebutuhan khusus.

“Semoga Bali United bisa menjadi pelopor untuk membuat tim sepak bola tuna netra. Saya sering mendengar ada olimpiade untuk disabilitas. Semoga Bali United menjadi tim pertama yang membentuk tim sepak bola tuna netra di Indonesia,” harap Rifan.  

Dukungan Komunitas Blind Semeton Dewata bukan hanya dari bangku tribun atau depan layar televisi. Kecintaan mereka terhadap Serdadu Tridatu dituangkan juga melalui chants ciptaan mereka yang berjudul “Untukmu Serdadu Tridatu”

Seperti sebuah peribahasa, “Fajar menyingsing, elang menyongsong”, yang memiliki arti sambutlah hari dengan semangat berusaha yang gigih tergambar dari Komunitas Blind Semeton Dewata. Meski memiliki kekurangan, namun semangat tak pernah padam dalam memberikan dukungan untuk Bali United selalu mereka tunjukkan.

Terima kasih Blind Semeton Dewata. Semangat kalian adalah semangat perjuangan para penggawa Serdadu Tridatu!

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS