5 October 2022

MESKI MENGALAMI KEKURANGAN, INI BUKTI CINTA SEORANG AYAH TERHADAP SANG BUAH HATI UNTUK HADIR KE STADION DIPTA

Dunianya pernah berhenti berputar puluhan tahun silam. Kehilangan kaki kiri membuat langkahnya jadi tidak pasti.

Namun hal tersebut berubah seketika saat putranya lahir 11 tahun silam. Ia tahu dan yakin harus ke mana menjejakkan kakinya.

Ini adalah kisah I Kadek Ariana, salah seorang suporter Bali United yang terus melangkah maju meski langkahnya tidak sempurna.

Pria yang akrab disapa Caper itu harus rela tumbuh dengan kaki yang tidak normal. Kaki kirinya tidak sempurna dibandingkan kaki kanannya.

Sakit panas tinggi yang sempat diidapnya saat berusia dua tahun menjadi penyebab di baliknya. Ia yang pernah bisa merasakan betapa nikmatnya berjalan dan berlari, terpaksa harus terpincang akibat kaki kirinya yang berhenti tumbuh tersebut.

"Dulu saat saya berusia dua tahun, badan saya panas. Panas itu tidak turun-turun dan terpaksa disuntik. Sehabis disuntik itu kaki saya lemas dan tidak bisa bergerak. Itu berdasarkan cerita dari ibu dan saudara. Dulu saya memang lahir normal dan sempat bisa berjalan. Hanya karena nasib, makanya begini," jelas Caper.

Kini, setelah puluhan tahun berlalu, Caper tentu sudah bisa menerima keadaan. Ia bertransformasi menjadi sosok yang tangguh dan kuat.

Kebahagiaannya semakin lengkap ketika pada tahun 2012 putranya lahir. Keberadaan sang anak yang diberi nama I Putu Wahyu Febriana itu bak pelengkap jiwanya.

Langkahnya semakin sempurna, Febriana bagaikan sepasang tambahan kaki baginya. Putranya yang kini duduk di bangku kelas enam sekolah dasar itu menjadi alasan baginya untuk terus menjalani hidup.

Keduanya pun kerap menghabiskan waktu bersama. Salah satunya dengan menyaksikan pertandingan Bali United menghadapi Persikabo 1973 pada 30 September lalu.

Meskipun masih tertatih, tetapi demi kecintaan kepada sang anak, Caper dengan cepat berusaha mengimbangi pergerakan tongkat penyangganya dengan langkah Febriana.

Keduanya terlihat begitu bahagia menikmati saat bersama di bangku tribun VIP Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar. Larutnya malam tidak halangi keceriaan Caper dan sang putra.

"Saya sebenarnya mendukung keinginan anak. Karena dia ingin datang menonton langsung Bali United. Maka dari itu saya ajak saja dia. Berhubung ada teman ke sini juga, jadi kami berangkat," ujar Caper dengan tersenyum.

"Karena dia sudah sangat semangat, saya tidak masalah datang malam-malam. Yang terpenting dia senang dan tetap menjalani kewajibannya, salah satunya sekolah," imbuh Caper sembari mengusap kepala sang putra.

Di balik sosoknya yang terlihat tegar tersebut, pria asli Blahbatuh, Gianyar tersebut tetap memiliki sisi lembut. Ia tidak pernah merasa malu ataupun rendah diri ketika banyak orang menanyakan terkait kondisi dirinya, termasuk kepada anaknya.

Dengan lapang dada dan besar hati, pria yang sehari-hari bekerja di bengkel ini meladeni pertanyaan-pertanyaan yang dilayangkan kepadanya.

Ia mampu menjawab pertanyaan dan juga pandangan sebelah mata kepadanya dengan prestasi di bidang otomotif yang dia cintai juga.

"Saya percaya diri untuk menjalani hari-hari. Saya fair saja kepada anak, teman, dan orang yang baru kenal. Karena Tuhan memberikan saya kelebihan seperti bisa otomotif dan sering ikut kompetisi di ajang tersebut," jelas Caper.

Melihat perjuangan sang ayah yang mewujudkan keinginannya untuk menyaksikan Bali United secara langsung di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Febriana pun begitu sumringah. Senyumnya tidak berhenti terkembang.

Pasangan ayah dan anak ini pun total mendukung Serdadu Tridatu dengan kompak mengenakan setelan polo merah Bali United.

Meskipun Serdadu Tridatu harus menerima kekalahan 1-2 dari Persikabo 1973, tetapi bocah yang mengidolakan Ilija Spasojevic dan Eber Bessa ini tetap terhibur. Pasalnya ini menjadi kali pertama kaki kecilnya menjejak di stadion kebanggan Semeton.

"Senang bisa nonton, karena ini pertama kalinya. Memang pengen nonton dan nanya ke bapak, 'pak boleh nggak nonton Bali United?' dan langsung berangkat sama bapak," ungkap Febriana sembari tertawa.

Febriana pun mengucapkan rasa terima kasih dan cintanya kepada sang ayah.

"Sayanglah. Karena bapak baik. I love you bapak," ujar Febriana sembari mendekap kaki sang ayah.

Keduanya lantas bergegas kembali menikmati momen kebersamaan di bawah temaramnya cahaya ketika anthem Rasa Bangga mulai mengalun.

Suasana yang syahdu ditambah dengan seberkas cahaya dari lampu senter ponsel menjadi penutup malam yang sempurna bagi ayah dan anak ini.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS