9 October 2022

TIMNAS INDONESIA U-17 VS PALESTINA U-17: HADIRNYA CINTA MENYATUKAN PERBEDAAN!

Dalam satu pekan terakhir, sepak bola Indonesia mengalami masa yang sulit. Dunia kulit bulat Tanah Air dirundung duka akibat tragedi ironis yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada 1 Oktober lalu.

Ratusan orang menjadi korban tewas maupun luka akibat tragedi tragis yang terjadi pasca pertandingan Arema FC menjamu Persebaya tersebut.

Duka dan luka tentu menyelimuti seluruh warga Indonesia. Pasalnya, ini menjadi tragedi terkelam dalam sejarah sepak bola di Tanah Air, di mana total sebanyak 678 orang menjadi korban.

Akibat dari tragedi tersebut, banyak pihak menyampaikan ungkapan duka dan simpati. Di balik duka dan air mata, kejadian pilu ini menjadi pemantik kesadaran akan pentingnya persatuan.

Berbagai elemen sepak bola nasional mengambil sikap simpati dan mengesampingkan rivalitas untuk bersatu padu. Sejumlah kelompok suporter di tanah air pun melakukan hal tersebut, sebut saja pendukung PSIM, Persis Solo, PSS Sleman, Persebaya, Persija, dan Arema FC.

Meskipun terkesan terlalu tragis, ternyata memang Tragedi Kanjuruhan ini menjadi tonggak dari kembali bersatunya seluruh insan dalam sepak bola Indonesia yang sudah lama carut-marut dan tercerai-berai.

Tidak hanya itu, potret sikap respek dan saling menghormati juga tergambar jelas di atas lapangan. Salah satunya adalah melalui pertandingan Kualifikasi Piala Asia U-17 2023 yang mempertemukan antara Timnas Indonesia U-17 dengan Palestina U-17 (7/10).

Pada laga yang berhasil dimenangkan oleh skuad Garuda Asia dengan skor akhir 2-0 tersebut, suasana hangat mewarnai partai ketiga babak kualifikasi Grup B.

Terlepas dari aksi memukau yang tunjukkan oleh skuad arahan Bima Sakti hingga mampu menang berkat gol bunuh diri Ibrahim Al Fuqaha (9’) dan Habil Abdillah Yafi (51’), sejumlah momen mengharukan dan patut diapresiasi terjadi.

Pada menit ke-15, Palestina tengah melakukan penyerangan menyerang dari sisi kanan pertahanan lewat Ahmed Sulaiman. Pemilik nomor punggung 21 tersebut mencoba menyambut umpan panjang dengan kawalan dari kapten Timnas Indonesia, Muhammad Iqbal.

Keduanya pun berebut bola atas, tetapi Sulaiman mendarat dengan tidak sempurna dan mengerang kesakitan. Melihat hal tersebut, Sultan Zaky melakukan aksi fair play dengan membuang bola agar lawan segera mendapat perawatan.

Kemudian, giliran Palestina yang melakukan aksi terpuji. Pada menit ke-41, Indonesia menyerang dari sisi kiri lewat Habil Abdillah Yafi.

Habil pun mendapat hadangan dari dua pemain rival, di mana salah satunya melanggarnya. Ia sontak tersungkur kesakitan dan harus mendapat perawatan dari tim medis.

Namun, wasit meminta agar hal tersebut dilakukan di luar lapangan saja. Habil yang mencoba bangkit pun langsung mendapat bantuan dari pemain Palestina, Mohammed Zoghayyer.

Pemilik nomor punggung 15 dari skuad rival tersebut tidak hanya sekadar membantunya berdiri, tetapi juga menopang dengan hati-hati untuk membantu Habil melangkah keluar lapangan.

Tidak berhenti sampai di sana, selepas peluit panjang berbunyi, kedua kesebelasan pun tidak langsung melangkah menuju ruang ganti. Namun, seluruh anggota skuad Timnas Indonesia dan Palestina kompak saling bersalaman dan berpelukan hangat satu sama lain.

Semakin hangat dan haru, mereka pun melangkah menuju ke tengah lapangan dan membentuk setengah lingkaran. Seluruhnya menyingkirkan segala perbedaan yang ada satu sama lain demi saling memberikan dukungan.

Kedua kesebelasan sama-sama membawa luka tersendiri. Skuad Garuda Asia yang tengah berduka akibat Tragedi Kanjuruhan dan Palestina tentu terluka akibat konflik militer berkepanjangan di negaranya dengan Israel.

Namun, pada malam kemarin, di Stadion Pakansari, Cibinong, mereka melupakan sejenak pilu tersebut. Di tengah keheningan dan kekosongan bangku tribun, di bawah terangnya cahaya sorot lampu, cinta memenangkan semuanya.

“Terima kasih pada Indonesia yang sudah mencintai Palestina," ujar pelatih Palestina U-17, Loay Al Saleh selepas laga.

Meskipun para pemain dari kedua negara tersebut masih sangat belia, tetapi mereka mampu menunjukkan dan mengajarkan akan betapa pentingnya kebersamaan dan toleransi.

Dengan kebesaran hati, para pemain Indonesia dan Palestina menyadarkan bahwa rivalitas benar-benar hanya sebatas 90 menit saja, selebihnya kita adalah keluarga.

Sumber Foto: PSSI.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS