3 December 2022

KIBARAN REZEKI DARI AJANG PIALA DUNIA 2022 QATAR

Piala Dunia tidak hanya sekadar menghadirkan euforia dan keseruan lewat aksi para bintang dunia semata.

Namun, lebih dari itu. Ajang empat tahunan ini dapat menjadi ladang rezeki bagi orang yang jeli melihat peluang.

Salah satunya adalah Farid Muhammad. Sejak tahun 2015 silam, pria asal Bandung ini menggantungkan hidup dari kibaran bendera yang dijualnya.

Farid tak pernah absen menjajakan bendera-bendera negara yang tampil di ajang bergengsi macam Piala Dunia 2018 Rusia, Euro 2020, hingga kini Piala Dunia 2022 Qatar.

Dengan modal untaian tali, ia menyulap trotoar di kawasan Kuta menjadi semarak warna warni berkat puluhan bendera negara kontestan Piala Dunia 2022 Qatar.

Mulai dari bendera Brasil, Jerman, Argentina, Kroasia, hingga Spanyol berjejer rapi di menghiasi tembok jalanan yang mulai berlubang.

Tidak ketinggalan, bendera Indonesia pun turut berkibar walaupun belum pernah sekalipun mentas di ajang Piala Dunia sebagai negara merdeka.

Harga masing-masing bendera sendiri beragam, tergantung dari ukuran. Namun, semuanya tergolong terjangkau.

Farid pun mengakui bahwa ratusan bendera yang dijajakannya pernah ludes diborong apalagi satu pekan menjelang dimulainya ajang Piala Dunia.

Mulai dari warga lokal hingga mancanegara turut serta merayakan euforia pesta bola dunia ini dengan membeli bendera negara jagoannya.

"Pernah ratusan laku. Biasanya itu H-7 dimulai atau pas mau final rame. Di sini (Bali) banyak bule yang beli. Lokal juga lumayan," ujar Farid.

Namun, layaknya kibaran bendera yang bergantung pada tiupan angin, pun dengan hidupnya.

Pada edisi kali ini, dirinya tak banyak berkibar. Puluhan bendera miliknya lebih banyak tergantung rapi di antara tembok jalanan Kuta daripada berkibar tinggi menyapa mentari.

Berjualan sejak bulan September lalu, baru 100 bendera saja yang laku terjual.

Jumlah tersebut tentu berbanding terbalik dari edisi Piala Dunia maupun Euro sebelumnya.

Pernah terbesit dalam benaknya untuk mencari pekerjaan yang lebih pasti. Namun, ia tak sampai hati meninggalkan mata pencaharian yang pernah membuatnya bertahan hidup sampai saat ini.

“Pernah kepikiran (untuk mencari pekerjaan lain). Namun, kalau istilah saya harus profesional-lah. Saya paksakan tetap berjualan. Susah senang bersama. Kalau dekat dari kampung, saya pasti pulang lebih dulu,” kata Farid.

Kini, di tengah situasi yang serba tidak pasti, pria berusia 29 tahun tersebut menantikan angin segar bertiup.

Seperti banyak pedagang kecil lain yang menggantungkan hidup dari sepak bola, Farid berharap agar Liga 1 dapat kembali bergulir.

Pasalnya, hidupnya tidak hanya bergantung dari ajang Piala Dunia saja, tetapi juga dari liga nasional melalui menjual pernak-pernik klub peserta Liga 1.

"Saya sebenarnya bukan hanya menjual bendera negara saja, tapi juga bendera dan pernak-pernik klub. Namun, karena liga berhenti, jadi jualan bendera negara Piala Dunia aja. Ya, semoga aja liga bisa main lagi, jadi ada tambahan pemasukan," harap Farid.

Farid barangkali menjadi salah satu potret insan yang begitu menggantungkan hidup dari dunia kulit bulat.

Dengan kondisi saat ini yang serba tidak pasti, ditambah liga yang tidak kunjung kembali bergulir, semuanya bak peribahasa “hidup segan mati tak mau”.

Semoga segera ada kejelasan dari kelanjutan Liga 1 dan sepak bola semakin maju.

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS