26 July 2022

KISAH I KOMANG SEMADI SAJANA PUTRA YANG UBAH DUKA MENJADI SUKACITA PADA “THE NEXT GEN BALI”

Setiap anak di dunia pasti menginginkan memiliki orang tua yang sehat dan lengkap. Kehadiran ayah dan ibu yang mengiringi setiap proses tumbuh dan berkembangnya tentu saja akan melukiskan momen berkesan yang tidak akan terlupakan.

Kehadiran ayah dan ibu bukan hanya sebatas memainkan peran sebagai orang tua saja, tetapi juga dapat menjadi tempat bercerita, pelindung, serta panutan bagi setiap anak. Melalui hal tersebut, karakter serta jati diri seorang anak akan terbentuk.

Meskipun begitu, sosok orang tua tetaplah manusia biasa yang memiliki keterbatasan, sehingga tidak mungkin sesempurna seperti yang ada di dalam benak atau impian. Namun, kehadiran ayah dan ibu tentulah tetap penting bagi setiap anak.

Sebagaimana manusia, ayah dan ibu tidak bisa selamanya berada di sisi sang anak. Semuanya terbatas usia yang diberikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa.

Kehilangan sosok orang tua tentu sangatlah berat bagi seorang anak, apalagi ketika usianya masih tergolong belia. Itulah yang dirasakan oleh seorang peserta seleksi “The Next Gen Bali”, I Komang Semadi Sajana Putra.

Bocah yang akrab disapa Mang Adi itu harus mengalami kejadian pilu dalam hidupnya. Ia yang baru menginjak usia 13 tahun telah dihantam rentetan duka kehilangan kedua orang tuanya.

Sang ibu yang bernama Ni Komang Kamiyan harus kembali ke pangkuan Sang Mahakuasa akibat menderita kanker pada tahun 2020 lalu. Dua tahun berselang, bapaknya menyusul sang istri secara mendadak.

“Ibu saya meninggal saat saya kelas 4 SD karena kanker saat awal-awal Covid-19. Lalu bapak meninggal saat saya kelas 6 SD, belum lama, Januari kemarin,” ujar Mang Adi dengan tatapan berkaca-kaca.

Dirundung duka dalam rentang waktu yang berdekatan tentu sangat mengguncang Mang Adi. Semuanya terjadi sangat cepat dan pasti sangat berat bagi bocah kelahiran 26 Januari 2009 itu.

Kini, Mang Adi serta dua kakaknya harus tinggal di sebuah rumah sederhana bersama kakek dan neneknya di daerah asalnya, Desa Manistutu, Jembrana. Beruntung baginya masih memiliki sanak saudara yang bisa menjadi tempatnya bernaung.

Meskipun mengalami kejadian yang terasa begitu berat, khususnya bagi anak seusianya, tetapi Mang Adi ternyata sangatlah tangguh. Beruntung ada sepak bola yang menjadi pelampiasan rasa dukanya.

Bocah yang masih duduk di bangku kelas tujuh sekolah menengah pertama itu ingin membuktikan kepada kedua mendiang orang tuanya bahwa ia bisa sukses menjadi pesepak bola. Seleksi pemain Bali United Youth pun dipilihnya sebagai jalan untuk menggapai mimpi itu.

“Pastinya sedih, hanya mau bagaimana lagi. Saya hanya bisa menjalani saja. Saya ingin sekali menunjukkan kalau bisa sukses di sepak bola kepada orang tua di atas. Karena dulu saya dilarang bermain bola, tetapi ingin menjadi pemain bola untuk membantu keluarga. Olahraga apapun saya jalani, tetapi lebih suka di sepak bola,” imbuh Mang Adi sembari menghela napas.

Impiannya membela tim tanah kelahirannya sudah bulat. Mang Adi pun mengeluarkan usaha terbaiknya untuk bisa menembus skuad Bali United Youth U-14 yang akan turun pada Elite Pro Academy 2022 mendatang.

Menghadapi ratusan talenta muda yang tidak kalah berbakat darinya, pemain yang berposisi sebagai gelandang itu semakin terpacu untuk berjuang serta berdoa demi bisa lolos. Semangatnya sebagai putra daerah terus membuatnya bergelora untuk membela Bali United.

“Pertama pasti berdoa dan berusaha untuk bisa lolos. Melihat saingannya juga berat dan keras-keras juga, tetapi sudah berdoa dan berusaha, siapa tahu bisa lolos. Karena saya orang Bali, jadi ingin membela tim tempat saya lahir. Harus bisa membela Bali United, karena ini klub impian saya,” jelas Mang Adi mantap.

Perjuangannya demi mengikuti seleksi “The Next Gen Bali” ini sendiri bisa terbilang tidak mudah. Mang Adi yang berdomisili di Jembrana harus rela menempuh perjalanan pulang pergi yang cukup melelahkan ke Pantai Purnama, Gianyar.

Dari tiga hari seleksi mulai hari Rabu (20/7) hingga Jumat (22/7) Mang Adi harus berangkat dari rumahnya sejak dini hari, tepatnya pukul 02.00 WITA untuk sampai ke lokasi Training Center Bali United di Pantai Purnama.

Beruntung baginya memiliki sosok yang selalu setia menemaninya. Dia adalah Coach Dwi yang merupakan pelatihnya di tim Gadjah Mada Bali Football Academy. Tidak hanya sekadar mengantarkan Mang Adi, ternyata sang pelatih juga rela membantu menyediakan segala kebutuhan seleksinya.

Mulai dari sepatu, kaos kaki, hingga deker yang dikenakan Mang Adi merupakan milik dari Coach Dwi. Hal itu menunjukkan bahwa sang pelatih adalah seorang yang sangat berdedikasi dan tulus mendukung mimpi anak asuhnya.

“Sepatu saya rusak dan ingin beli yang baru. Untuk uang ada, tetapi masih kurang. Bersyukur Coach Dwi punya sepatu dan mau meminjamkan. Kaos kaki dan deker juga pinjam dengan Coach Dwi. Sempat minder dengan teman-teman di sini, tapi saya berusaha untuk nantinya bisa beli sepatu baru,” ujar Mang Adi sembari tersenyum.

Perjuangan Mang Adi untuk menunjukkan performa terbaiknya di atas lapangan hijau bukan hanya ditunjukkan untuk meyakinkan para pelatih Bali United Youth saja. Namun, juga demi meyakinkan sang kakak yang masih melarang adiknya ini untuk bermain bola.

Bayang-bayang cedera yang pernah Mang Adi alami masih membekas dalam benak sang kakak. Namun sekali lagi, siswa SMP Negeri 3 Melaya itu adalah seorang yang punya tekad yang kuat.

Berkat keteguhan serta usaha tidak kenal lelah untuk berlatih, secara perlahan sang kakak mulai luluh dan mengizinkannya menekuni olahraga si kulit bulat ini.

“Ingin menunjukkan ke orang tua dan kakak. Kakak sebenarnya juga tidak mengizinkan dan sangat melarang saya bermain bola karena saya sempat cedera. Namun, saya terus bicara dengan dia kalau memang ini hobi, ingin menunjukkan ke orang tua, dan sukses bermain bola. Bersyukur sekarang sudah mulai didukung meskipun masih was-was,” terang Mang Adi.

Kini, berkat usaha serta kerja kerasnya, Mang Adi berhasil masuk menjadi 30 pemain yang dinyatakan lolos menjadi penggawa Bali United Youth U-14. Ia pun berkesempatan untuk mulai meniti mimpinya menjadi pesepak bola profesional dari sini.

Tidak lupa, Mang Adi turut menyampaikan rasa syukurnya atas kesempatan besar yang berhasil diperolehnya. Ia sadar bahwa ini bukan hanya usahanya sendiri, tetapi juga berkat bantuan serta dukungan dari orang terkasih.

“Pertama, terima kasih untuk Coach Dwi walaupun saya selalu menyusahkan dan merepotkan untuk jemput tetap mendukung, pokoknya Coach Dwi terbaik! Untuk orang tua, bapak dan ibu, semoga Komang sukses di sepak bola. Terakhir untuk kakak terima kasih juga, walaupun sering marah kalau saya tidak mandi malam, tetapi Komang akan buktikan kalau bisa sukses bermain bola dan perlahan bantu ekonomi keluarga,” tutup Mang Adi.

Kisah perjuangan Mang Adi ini dapat menjadi teladan bagi siapapun yang tengah mengalami fase berat dalam hidup untuk dapat segera bangkit. Jangan biarkan rasa terpuruk itu memupus asa untuk menggapai mimpi-mimpi.

Teruslah berjuang dan buktikan kepada orang terkasih bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk meraih impian! Semangat!

Luar biasa Mang Adi!

Related News


Tinggalkan Balasan

SPONSORS
MEDIA PARTNERS